Jumat, 31 Oktober 2014

KARENA ALAM SAHABAT MEREKA


Suku Amungme - Photo: Kebudayaan Indonesia
Suku Amungme - Photo: Kebudayaan Indonesia


Saat manusia menjaga alamnya, alam juga akan menjaga manusianya.

Anjoboronga angkotai bosia . Bahasa Konjo yang sehari-hari dipergunakan masyarakat Ammatoa atau suku Kajang di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, ini bermakna: hutan itulah yang memanggil hujan.

Bumi diciptakan oleh Sang Pencipta dengan kelengkapan seperti halnya organ tubuh manusia. Ini adalah salah satu pandangan hidup komunitas Ammatoa yang mengandung berbagai etika dan norma yang terangkum dalam  Pasang ri Kajang atau aturan di Kajang.


Hutan bagi suku Kajang diibaratkan jantung manusia. Hutanlah yang berfungsi mengatur dan menyeimbangkan antara musim hujan dan kemarau. Jika hutan berkurang, hujan pun akan berkurang, begitu menurut mereka.


Masyarakat Kajang membagi hutan dalam empat kawasan. Kawasan terlarang merupakan kawasan hutan sama sekali tidak diperbolehkan dimasuki manusia. Apa yang ada di dalam hutan itu pun tidak boleh diganggu. Namun, ada pengecualian bagi mereka yang tersesat dan masuk ke hutan itu tanpa sengaja. Mereka bisa mengambil buah-buahan untuk dimakan, tapi dengan syarat, tak boleh dibawa keluar dari kawasan itu.

Kawasan selanjutnya adalah hutan adat. Hutan ini boleh dimasuki pada waktu tertentu. Isi hutan boleh diambil dan dipakai hanya untuk keperluan adat yang tentu saja atas seizin Ammatoa (kepala adat). Kawasan berikutnya adalah hutan produksi, di mana masyarakat boleh mengelola hutan secara bersama-sama dan mengambil hasilnya, misalnya untuk persawahan dan kebun.

Selanjutnya adalah kawasan hutan masyarakat. Masyarakat boleh masuk ke dalam hutan ini dan mengambil hasilnya hanya saat panen saja. Misalnya untuk mengumpulkan madu, buah-buahan, dan sebagainya.

Hutan adalah sesuatu yang sangat sakral. Karenanya, menebang pohon, mencabut rumput, atau berburu satwa harus seizin Ammatoa. Seorang boleh menebang pohon untuk dijadikan rumah untuk sekali dalam seumur hidupnya.

Masyarakat Kajang percaya Tuhan menciptakan alam dan seisinya untuk kesejahteraan seluruh umat manusia. Mereka yang hidup saat ini bertugas menjaganya untuk dinikmati generasi selanjutnya dengan kualitas yang sama. Penjagaan hutan agar tetap lestari didasari pemahaman bahwa Tuhan akan memberikan ganjaran setimpal bila masyarakat menuruti segala aturan-Nya. Begitu pula ganjaran bila masyarakat melalaikannya. Jadi, saat manusia menjaga alamnya, alam juga akan menjaga manusianya.

Jika masyakat Kajang lebih memusatkan perhatian pada hutan, suku Amungme, yang hidup di Tembagapura, Papua memandang tanah sebagai ibu atau mama. Tanah digambarkan sebagai seorang ibu yang memberi makan, memelihara, mendidik, dan membesarkan dari bayi hingga lanjut usia, sampai akhirnya mati.

Tanah dengan lingkungan hidup habitatnya dipandang sebagai tempat tinggal, berkebun, berburu, dan pemakaman. Karena itu, bagi mereka, tanah adalah tempat kediaman roh halus dan arwah para leluhur. Sehingga, ada beberapa lokasi tanah seperti gua, gunung, air terjun dan kuburan yang sangat dikeramatkan.

Maka tak heran jika suku ini sering terlibat gesekan dengan pihak yang melakukan eksploitasi tambang di kawasan tersebut, yakni PT Freeport Indonesia. Karena bagi mereka, gunung biji (Erstberg) dan Grassberg dipercaya sebagai kepala mama.

Kasus Freeport merupakan suatu perlawaan budaya para tokoh adat Amungme yang memegang dengan pesan budaya  te aro neweak lako (alam adalah aku). Akibatnya, dampak pencemaran limbah Freeport dalam bentuk pembuangan tailing ke dalam sungai Ajkwa dan Agawaghon dan semua anak sungai di sekitarnya menyebabkan kerusakan ekosistem dan budaya Amungme. Mereka pun memahaminya sebagai pencemaran terhadap air susu ibu (mama).

Suku Kajang - Photo: shamawar.wordpress.com
Suku Kajang - Photo: shamawar.wordpress.com

Tempat perlindungan

Menjaga alam karena dari alamlah mereka mampu bertahan hidup. Jika alam rusak, mereka akan kesulitan mencari makanan juga hidup tenang dan aman. Itu adalah beberapa bagian yang dipegang teguh oleh masyarakat adat.

Sistem pengamanan diri dan lingkungan yang dimiliki masyarakat adat berbeda-beda, sangat bergantung pada kontur bumi yang mereka pijak. Sesederhana apa pun metode yang dikembangkan masyarakat adat, mereka senantiasa menyesuaikan rasa aman itu dengan kondisi lingkungan dan teknologi yang mereka kuasai.

Berbagai suku yang mendiami wilayah Kepala Burung terkenal masih memegang tradisi perang suku. Karena itu, pemilihan lokasi permukiman sekaligus sebagai tempat berlindung sangat penting. Suku Asmat di Papua, misalnya, memilih mendirikan perkampungan mereka di sepanjang tepian sungai yang lebar dan dalam, berada di tengah hutan dan rawa yang mahaluas. Arus yang deras dan lumpur di tepi sungai adalah tameng mereka untuk musuh yang bermaksud menyerang.

Berbeda dengan suku Dani yang bermukim di Pegunungan Jayawijaya. Mereka lebih suka membangun permukiman di punggung bukit ataupun lereng yang curam. Ini untuk menjamin keamanan mereka terhadap serangan musuh. Para penyerbu harus mendaki bukit yang terjal atau menuruni tebing yang curam terlebih dahulu jika akan mendekati permukiman mereka.

Suku Kubu - Photo: pasjementah.blogspot.com
Suku Kubu - Photo: pasjementah.blogspot.com
Demi rasa aman pula, orang-orang rimba atau orang kubu yang berkelana di kawasan hutan Jambi bermukim di daerah pedalaman yang jauh dari jangakuan pihak luar. Bila perlu, mereka sengaja membangun wilayah penyangga berupa hutan belantara yang ditabukan untuk diolah. Ini semua demi rasa aman dari sergapan pihak musuh ataupun pihak luar yang tidak diharapkan kehadirannya.

Suku Kubu mengembangkan  hompongan , yakni hutan belantara yang mengitari pusat permukiman mereka. Hutan itu sengaja dipelihara dan berfungsi sebagai benteng pertahanan mereka.

Masyarakat suku Dayak dari berbagai subsuku membangun rumah panjang yang disebut  Betang, Low , atau  Lamin. Rumah ini sengaja dididirikan di pinggir sungai atau menghadap ke sungai. Sungai selain dijadikan prasarana transportasi, juga dijadikan benteng pertahanan terhadap musuh dan serangan binatang buas.

Orang-orang Dayak Meratus di Kalimantan Selatan pun memilih membangun permukiman mereka di dekat sungai berarus deras. Sebelum sampai ke wilayah perkampungan, hutan belukar dibiarkan tumbuh lebat dan jalan-jalan dibiarkan tak terurus. Tujuannya, tak lain agar sebelum musuh mereka tiba di perkampungan, mereka harus melalui rintangan alam lebih dahulu. Kondisi tersebut pun bisa memberi kesempatan pada warga anak-anak dan perempuan mengungsi ke tempat yang lebih aman sebelum musuh tiba.

Selain bersahabat dengan alam sebagai tempat perlindungan, masyarakat adat juga mengenal pranata sosial yang tidak bisa dikatakan sederhana. Contoh ini bisa dilihat di banyak komunitas suku-suku di Papua. Memang betul, mereka memang memiliki tradisi perang suku. Namun, ternyata mereka pun mengenal sekutu.

Di desa Agats dan Syuru di Kabupaten Merauke yang dihuni suku Asmat, mereka melakukan konsesi hutan yang diberikan kepada suku lain yang bersedia membina persekutuan keamanan di wilayahnya. Orang Asmat yang masih berburu dan meramu sagu mau saja memberikan sebagian hutan mereka kepada orang-orang Muyu yang memerlukan lahan pertanian.

Persekutuan berupa konsesi tanah itu diberikan cuma-cuma. Mereka hanya mengajukan syarat, suku lain yang menjadi sekutu mereka harus bersedia memberikan informasi berupa kode jika ada kelompok lain yang menjadi musuh sekutunya datang menyerang.

Persekutuan yang membentuk semacam organisasi keamanan juga dilakukan suku Dani dengan suku Kapauku. Secara terpisah mereka mengembangkan federasi antardesa sebagai bentuk persekutuan pertahanan dan keamanan untuk tidak saling menyerang.

Mereka pun memiliki kesepakatan untuk menghadapi musuh bersama dari suku lain. Persekutuan pun boleh dikata juga dibangun oleh masyarakat Kanekes atau suku Baduy yang mendiami wilayah Pegunungan Kendeng, Jawa Barat. Untuk masuk hingga kawasan yang dihuni suku Baduy Dalam yang mendiami tiga dusun, orang asing harus melewati Baduy Luar terlebih dahulu. (diteruskan dari catatan Andi Nur Aminah)

Suku Baduy - Photo: m.adirafacesofindonesia.com 
Suku Baduy - Photo: m.adirafacesofindonesia.com



Sumber : https://id-id.facebook.com/notes/suara-persaudaraan-alam-semesta-indonesia-spasi-nurmansah/karena-alam-sahabat-mereka/722890631079024

Tidak ada komentar:

Posting Komentar