Jumat, 08 November 2013

Islam dan Go Green: Praktek Go Green Ala Rasulullah

go-green1Tidaklah seorang muslim menanam suatu tanaman melainkan sesuatu yang dimakan darinya menjadi sedekah baginya, dan sesuatu yang dicuri darinya menjadi sedekah baginya, dan tidaklah sesuatu itu dikurangi oleh seseorang melainkan ia menjadi sedekah baginya hingga hari kiamat (HR. Muslim)
Tidaklah seorang muslim menanam suatu tanaman pohon atau menabur suatu benih lalu sebagian hasilnya dimakan oleh burung atau seseorang, melainkan menjadi sedekah baginya (HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)

# Larangan Menebang Pohon Bidara
Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata, “Rasulullah. pernah bersabda, “Sesungguhnya orang yang menebang pohon bidara akan dituang api neraka di kepalanya’,” (Shahih, HR al-Baihaqi [IV/117]).
Diriwayatkan dari Muawiyah bin Haidah, ia berkata, “Rasulullah pernah bersabda, ‘Allah akan menuangkan (air panas) ke atas kepala penebang pohon bidara di dalam neraka’,” (HR al-Baihaqi [VI/141]).
Para ulama berselisih pendapat tentang larangan menebang pohon bidara kepada beberapa pendapat:
Imam Abu Dawud berkata, “Hadits ini cukup ringkas. Artinya barangsiapa menebang pohon bidara yang tumbuh di padang pasir tempat berteduh para musafir dan hewan ternak, tanpa ada kemaslahatan sedikitpun maka Allah akan menuangkan air panas ke atas kepalanya di neraka nanti.”
Imam Ath-Thahawi berpendapat, “Bahwa hadits ini mansukh, sebab Urwah bin az-Zubair salah seorang perawi hadits ini pernah menebang pohon bidara untuk diolah menjadi beberapa pintu,” (lihat Musykilul Aatsaar [VII/427]).

Jumat, 01 November 2013

Pecinta Alam dan Paradigma Gerakan Lingkungan


” jika ingin mengubah negara untuk kegiatan – kegiatan yang sulit tentang persoalan kebijakan politik, pencinta lingkungan menjadi sumber kekuatan dengan apa saja dapat dilakukan. Jika anda ingin mempunyai negara untuk kepentingan ekonomi, pikirkan diri anda dan generasi anda yang akan datang, saya yakin anda dapat melakukannya”
(Gerlorfd Nelson dalam catalyst conference speech university of Illionis, 1990)
Pencinta alam di Indonesia saat ini belum dirasakan sebagai salah satu akar gerakan lingkungan, terbukti dalam korelasinya saat ini dengan menjamurnya perhimpunan pencinta alam seiring pula dengan kerusakan yang tidak terkendali. Dimanakah letak penyimpangan ini karena keberadaan pencinta alam dalam tataran yang ideal dapat menumbuhkembangkan generasi yang peduli lingkungan. ini patut dikembangkan baik dalam pola gerakan maupun pengembangan organisasinya. Namun dalam tataran real tidak bisa di bedakan antara pencinta alam dan penggiat alam terbuka karena keduanya hampir tidak bisa dibedakan mana yang penggiat dan mana pencinta alam
Model gerakan lingkungan yang berasal dari pencinta alam pada periode kelahirannya lebih menekankan pada kecintaan terhadap alam yang diwujudkan dengan naik gunung, camping, pelatihan konservasi, dan penghijauan di lereng-lereng gunung. Selain kecintaan terhadap alam, mereka ornop dan sebagian pencinta alam masih terkonsentrasi pada model pembangunan. Karena mereka masih meyakini kebenaran model pembengunan berkelanjutan dengan standar kemajuan ekonomi yang sesungguhnya menimbulkan dampak.
Simpulan Paradigma

Mendaki Gunung Adalah Pekerjaan Jati Diri


5cmTidak bisa dipungkiri bahwa film 5 cm telah menyedot perhatian banyak kalangan. Bukan karena cerita cinta yang disuguhkan melainkan kegiatan mendaki gunungnya, yakni mendaki puncak gunung semeru yang merupakan tertinggi di pulau Jawa. 3676 mdpl. Bagi masyarakat awam, film ini telah memberikan sedikit informasi tentang bagaimana mendaki gunung. Tak sedikit dari mereka yang kemudian berencana untuk mendaki gunung.
Mendaki gunung tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Butuh ilmu dan ketahanan fisik serta mental yang kuat. Tidak dilakukan secara sembarangan. Bagi para pendaki gunung (penggiat alam terbuka), menaiki sebuah gunung adalah kegiatan yang menantang dan menyalurkan hobi. Namun bagi segilintir orang, mendaki gunung merupakan sebuah kegiatan atau pekerjaan yang sia-sia dan membuang-buang waktu, adapula yang memaknai nya untuk mencari pasangan atau jodoh (semoga saya tidak termasuk :p). Lantas apa jadi nya jika mendaki gunung untuk sekedar hanya sekedar “gaya-gayaan”, apa jadi nya jika mendaki gunung untuk berbuat “centil” kepada lawan jenis? Lalu apa dan bagaimana esensi dan filosofi mendaki gunung?
Ada sebuah kutipan yang sangat menarik dari Lord Robert Boden Powell yang dikenal sebagai Bapak Pandu Dunia. “Suatu negara tak akan kehabisan pemimpin jika di dalamnya masih terdapat anak muda yang penuh keberanian mendaki gunung tinggi dan menjelajah lautan”.

Apa Yang Kau Cari, Hai Pendaki?


dimas putra ramadhan
Lewat obrolan virtual itu  kau bertanya tentang petualangan-petualanganku. Tentang seberapa banyak puncak tinggi yang pernah kugagahi. Juga tentang seberapa luas rimba raya yang telah kucumbui. Selebihnya kau hanya bercerita tentang petualanganmu saja, tanpa titik koma. Padahal jika bisa kau  tatap mataku saat itu, tentu kau akan tahu jika sebenarnya aku enggan mendengar ceritamu.
Beberapa tahun yang lalu aku juga sama sepertimu kawan. Ketika secarik kain berwarna ungu itu baru saja melingkar di leherku. Saat benak ini hanya dipenuhi oleh satu obsesi. Mendaki, mendaki dan mendaki, itu saja. Namun, di tengah perjalanan akhirnya aku baru sadar akan sesuatu. Tak harus menjadi seorang pencinta alam, jika kau hanya ingin berpetualang! Sebab, mendaki sebenarnya bisa dilakukan oleh siapa saja. Bukan hanya aku atau kamu, tapi juga mereka.

Apakah Seperti Ini Pecinta Alam Indonesia abad 21?


Seandainya pohon bisa memberontak dan bicara tentunya ia bakal menjerit ketika ditebang, seadainya satwa liar itu bisa bicara tentunya ia bakal menyelamatkan hidupnya, namun kita sebagai manusia punya mulut, hati, telinga, otak malah diam saja melihat, mendengar jeritan-jeritan alam yang rusak ditangan kerakusan spesies manusia seperti kita ini. Apakah kita bangga dengan kekuasaan kita sendiri sementara kita telah melakukan bunuh diri secara perlahan bersama-sama oleh perbuatan kita sendiri.
Sebelum kita membahas pecinta alam dan kegiatannya mari kita pahami betul apa epistemologi dari “Pencinta Alam”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata Cinta mempunyai empat makna, yakni, [1] ‘suka sekali’ ; ‘sayang benar’ ; [2] ‘kasih sekali’ ; terpikat’ ; terpikat ; [3] ‘ingin sekali’ ; berharap sekali ; ‘rindu’ ; dan [4] ‘susah hati ; risau’ (1993 -190). Yang artinya pencinta diberi makna ‘orang yang suka akan’ (h191). Selain itu kata alam yang diserap dari bahasa Arab, di Indonesia berkembang sehingga mempunyai tujuh makna. Ketujuh makna itu ialah [1] ‘segala ada yang dilangit dan dibumi’ ; [2] ‘lingkungan dan kehidupan’ ; [3] ‘segala sesuatu yang termasuk dalam satu lingkungan dan dianggap satu lingkungan dan dianggap sebagai satu keutuhan’ [4] ‘segala daya yang menyebabkan terjadinya dan seakan-akan mengatur segala sesuatu yang ada di dunia ini [5] ‘yang bukan buatan manusia’ ; [6] ‘dunia’ ; dan [7] ‘kerajaan ; daerah ; negeri ‘ (h.22). Kalau kedua kata tersebut digabung maka arti dari pencinta alam adalah ‘orang yang sangat suka akan alam’.